Selamat pagi, Bapak/Ibu/Saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus.
Pagi ini kita akan sama-sama belajar dari firman Tuhan yang terambil dalam Bilangan 11:4-23.
Mari kita membacanya secara bergantian.
Sebelum kita merenungkan bagian ini, mari kita berdoa. Amin.
Saudara, saya teringat dengan satu acara di televisi, kalau tidak salah judulnya “Masihkah Engkau Mencintaiku?”, dengan pembawa acaranya adalah Dian Nitami dan Helmy Yahya.
Acara ini memberi kesempatan kepada suami-istri yang bertengkar/ingin bercerai untuk bisa berbicara dari hati ke hati, mengungkapkan kekuasaan dan harapannya terhadap pasangan masing-masing. Hasilnya nanti ada yang kembali bisa memaafkan, atau malah ada yang langsung marah dan tidak mau memaafkan pasangannya lagi.
Tidak semua yang namanya berbicara dari hati ke hati, akan mengeluarkan uneg-uneg kita, itu akan mendapatkan respon yang positif. Tergantung juga pada bagaimana kita mengeluarkan uneg-uneg/isi hati/kekecewaan kita tersebut.
Dalam firman Tuhan yang kita baca tadi, ada juga orang yang saling ‘protes’, ayat 4-6 menuliskan “orang-orang bajingan kemasukan nafsu rakus dan orang Israel menangis, minta daging dan mereka mulai membandingkan keadaan mereka dengan wkatu mereka masih ada di Mesir”.
Siapa itu orang-orang bajingan? Ada yang mengatakan orang-orang bajingan itu adalah orang-orang non-Israel yang ikut pergi dari Mesir setelah melihat perbuatan ajaib Tuhan kepada Israel dan Mesir (Keluaran 12:38).
Mereka memprovokasi bangsa Israel, sampai Israel menangis meminta daging dengan mengatakan, disini yang kami lihat cuma manna saja, kami mau daging, lihat sekarang kami kurus kering, padahal waktu di Mesir, kami bisa makan ikan dengan gratis, semua hasil tanah Mesir bisa kami nikmati, dengan tidak bayar apa-apa.
Apakah pernyataan mereka benar, bahwa mereka gratis makan semuanya? Tidak. Mengapa? Karena waktu di Mesir, makanan yang mereka makan “dengan gratis” itu harus dibayar dengan kemerdekaan mereka sebagai manusia. Mereka menjadi budak, harus kerja rodi, ditindas dan tidak dihargai, benar-benar menjadi seorang budak.
Sir William Wallace, dari Skotlandia, yang dikenal dengan julukan Braveheart (filmnya dibintangi oleh Mel Gibson), mengatakan “kalian boleh menghabisi nyawa kami, tetapi tidak kemerdekaan kami”.
Saudara, orang Israel lebih senang jadi budak di Mesir, daripada menjadi orang bebas. Itu dikarenakan urursan perut. Israel bosan dengan manna, roti dari sorga itu, Israel menolak manna dan mempertanyakan “siapakah yang akan memberi kita makan daging”. Mereka menolak Tuhan yang telah memberikan kemerdekaan, menjadikan mereka menjadi umat pilihan, dan akan diberikan tanah perjanjian.
Akhirnya apa yang Tuhan lakukan? Ayat 18-20, Tuhan akan memberikan mereka daging, bukan hanya 1 hari, tapi 1 bulan, sampai mereka muak.
Bapak/Ibu/Saudara, ‘permintaan daging’ akhirnya menjadi kutuk bagi Israel. ‘Permintaan daging’ membuat Israel menolak Tuhan. ‘Permintaan daging’ membuat Israel lebih senang menjadi budak di Mesir daripada menjadi umat Allah yang telah dimerdekakan.
Urusan perut membuat Israel mempertanyakan kuasa Tuhan. Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga membandingkan keadaan kita waktu belum percaya Yesus dengan setelah percaya Yesus? Sebelum aktif di gereja dengan sesudah aktif?
Lebih enak dulu waktu belum percaya, hidup ku sukses secara materi, sekarang mah mau beli keperluan anak harus mikir ratusa kali. Sudahlah, tidak usah terlalu aktif di gereja, tidak usah kasih perpuluhan, tidak usah ikut kebaktian. Karena percuma, tidak bisa ‘makan daging’, cuma bisa ‘makan roti’ saja.
Mulailah kita meragukan Tuhan dan kuasa-Nya.
Hati-hati Saudara, apa yang kita ingini, belum tentu itu terbaik buat kita.
Jangan biarkan keinginan kita nantinya malah menjadi kutuk, menajdi tidak baik buat kita sendiri.
Tuhan tahu apa yang terbaik buat kita, tanya dan mintalah kepada-Nya, tapi jangan menggerutu dan mempertanyakan kuasa-Nya, apalagi menolak Dia.
Sama seperti orangtua yang tidak akan memberikan pisau kepada anaknya yang masih kecil, karena takut nanti jari tangan anaknya terpotong.
Tuhan tahu memberikan yang terbaik karena Ia berkuasa.
Ketika Musa mendengarkan keluhan dan tangisan orang Israel, Musa menjadi tidak tahan. Ia datang kepada Tuhan dan mengeluarkan uneg-unegnya.
Ini yang membedakan keluhan orang Israel dengan keluhan Musa.
Orang Israel tidak langsug datang kepada Tuhan mengungkapkan keinginan mereka, sebaliknya, mereka malah saling memprovokasi satu sama lain.
Beda sekalli dengan Musa, yang langsung datang kepada Tuhan dan mengungkapkan kekecewaan-Nya, bahkan juga mempertanyakan kebaikan Tuhan.
Musa merasa tidak sanggup memimpin Israel seorang diri. Bagaimana tidak, Musa sudah mengalami perjalanannya bersama dengan bangsa yanng tegar tengkuk, yang hanya bisa protes setiap kali mendapatkan tantangan.
Sampai ayat 15, Musa minta Tuhan untuk membunuh dia saja.
Ayat 11-15 merupakan doa Musa yang kalau kita perhatikan begitu tulus dan apa adanya. Tidak ada kepura-puraan didalamnya.
Bapak/Ibu/Saudara yang dikasihi Tuhan.
Apa yang dilakukan Tuhan dalam menjawab keluhan Musa?
Ayat 16-18, Tuhan akan memberikan teman yang akan menolong Musa dalam memimpin bangsa Israel, yaitu 70 orang tua-tua.
Tuhan tidak membiarkan Musa sendirian, karena Tuhan tahu apa yang Musa rasakan dan Tuhan berkuasa untuk melakukan apa saja yang Ia mau, termasuk menyediakan daging selama 1 bulan full untuk dikonsumsi oleh 600 ribu orang (ayat 20-21).
Musa mendapatkan belas kasih Tuhan, karena Musa langsung datang kepada Tuhan mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan, secara jujur dan terbuka.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita masih memakai topeng ketika kita datang kepada Tuhan? Apakah hidup kita penuh dengan kepura-puraan? Apakah kita mempunyai relasi doa yang indah bersama dengan Tuhan?
Ada seorang jemaat yang begitu puitis ketika berdoa. Suatu kali, dalam persekutuan rumah tangga, Bapak ini diminta untuk emndoakan seorang anak yang bernama Susi, yang sedang sakit. Lalu Bapak ini mulai berdoa, bla...bla....bla.....
‘Tuhan, sekarang kami mau berdoa untuk Susi yang sedang sakit, duh Susi...Susi...kok kamu sakit nduk’.
Saudara, ketika mendengar kisah ini, saya merasa lucu, Bapak ini begitu polos, dan saya rasa itu begitu indah, ketika doa = ngomong, tidak perlu pakai EYD, tapi kata-kata yang keluar dari hati.
Bapak/Ibu/Saudara yang dikasihi Tuhan, ketika ada sesuatu hal yang mengganjal di dalam hati, ketika ada keinginan / harapan kita, jangan lari ke manusia, jangan menggerutu kepada Tuhan.
Tapi datanglah dalam doa kepada-Nya, karena Ia Tuhan yang berkuasa. Ia memberikan daging seperti yang diminta orang Israel. Ia memberikan teman dalam bertanggungjawab seperti yang diminta Musa. Karena Ia adalah Tuhan yang berkuasa dan tahu apa yang terbaik bagi umat pilihan-Nya.
Amin. Mari kita berdoa.
Selasa, 13 Maret 2012
Penggosip
Selamat malam ibu-ibu yang dikasihi oleh Tuhan.
Tema kita malam ini adalah ‘PENGGOSIP’.
Orang yang suka bergosip, disebut sebagai penggosip.
Gosip itu singkatan dari ‘makin digosok, makin sip’, maksudnya adalah suatu cerita yang beredar dari satu mulut ke mulut lain, dari satu telinga ke telinga lain, dan itu sudah disertai dengan bumbu-bumbu yang menarik, sehingga cerita semula bisa sangat berbeda maknanya, atau malah menjadi suatu cerita yang tidak jelas kebenarannya.
Namun anehnya, banyak orang yang suka dengan gosip, maksud saya suka bergosip dan suka menjadi penggosip, tapi tidak mau kalau digosipkan.
Benar kan? Mau tidak ibu-ibu digosipkan? Bukan KD (Kris Dayanti), tapi KG (Korban Gosip). Ada yang bersedia jadi sukarelawan menjadi korban gosip? Tentunya tidak ada seorangpun yang mau digosipkan kan? Tapi kalau bergosip, itu tidak bisa dihindari, benar ibu-ibu?
Ada banyak hal yang bisa digosipkan / ‘diceritakan’. Mulai dari masalah keluarga (hubungan suami-istri, perilaku anak, mertua, adik ipar dll), masalah keuangan (tetangga punya rumah baru, gaji naik, pekerjaan, dll), masalah penampilan (kosmetik, salon, operasi wajah, merk pakaian, dll). Pokoknya banyak deh.
Dari buku yang saya baca (High-Maintenance Relationship, oleh Les Parrott III, Ph.D.), dituliskan kalau rata-rata setiap orang mengucapkan kebohongan (dalam hal bergosip) sebanyak 13 kali setiap minggu, bahkan itupun tanpa disadari kalau sudah berbohong. Wah, kita musti hitung nih mulai hari ini sampai dengan Kamis depan, benar tidak yah penelitian tersebut.
Nah, apa kata firman Tuhan tentang bergosip ini?
Sekarang, mari kita membuka firman Tuhan dari Amsal 25:9, “belalah perkaramu terhadap sesamamu itu, tetapi jangan buka rahasia orang lain”.
Biasanya orang mau bergosip karena mau tahu urusan orang lain, atau ingin menjadi orang yang pertama tahu mengenai ‘informasi’ yang belum diketahui oleh orang lain. Gosip juga dianggap sebagai salah satu cara untuk mendapatkan ikatan persahabatan atau kunci penerimaan sosial. Yaitu kebutuhan untuk diterima. Bergosip juga disukai karena dengan bergosip membuat kehidupan mereka lebih normal.
Namun Amsal 25:9 mengatakan untuk kita jangan membuka rahasia orang lain. Kalau memang bermasalah dengan diri kita sendiri, kita berhak dan boleh membela masalah kita (debate your case with your neighbor), tapi jangan sampai membawa-bawa orang lain.
Ibu-ibu yang dikasihi Tuhan, lihat apa yang saya bawa ini? Coba sebutkan. Yah benar, kertas yang ada titik-titiknya. Ada yang berwarna hitam, merah, dan biru. Ketika kertas ini saya angkat dan saya tunjukkan kepada ibu-ibu, yang pertama kali dilihat yang titik-titiknya kah? Atau ibu-ibu melihat kertas putihnya? Padahal yang noktah ini lebih sedikit dibandingkan dengan kertas putihnya. Tapi itulah yang mencolok dan itulah yang kita lihat dulu.
Bukankah kita seperti itu juga? Kalau kertas ini digambarkan sebagai kehidupan orang lain, maka yang kita lihat adalah bercak yang ada di dalam kehidupan mereka, dan itu yang kita ekspos dan kita ceritakan. Tapi yang bersihnya tidak kita lihat atau kita malas lihat.
Ibu-ibu yang dikasihi Tuhan, jangan pernah membicarakan keburukan atau kehidupan orang lain, kalau mau, ceritakan saja kehidupan sendiri. Ini akan mencegah gosip dan mencegah kita menjadi penggosip.
Kenapa kita dilarang untuk membicarakan orang lain dalam hal gosip?
Mari kita lihat dalam Yakobus 1:26, “jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya”.
Yakobus 3:5, “demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar”.
Ibu-ibu, percuma kita beribadah, kata Yakobus, kalau ternyata kita tidak bisa menahan perkataan kita.
Jangan ikut-ikut dalam bergosip. Ada satu orang yang pernah mengatakan kepada saya, untuk mengatasi supaya tidak ikut bergosip adalah dengan langsung cut dengan mengatakan, “maaf, saya tidak mau mendengar hal itu yah.” Dan gosip itu pun tidak jadi masuk dalam telinganya.
Suatu hari, ada seorang ibu yang membicarakan tetangganya. Dan pembicaraan itu ternyata akhirnya menyebar sampai ke seluruh kompleks perumahan tersebut. Padahal belum dilihat kebenarannya. Kemudian, si ibu yang pertama kali menggosip itu, baru tahu kalau ternyata cerita yang dia sampaikan ke orang-orang di kompleksnya, adalah cerita yang salah. Ibu ini menyesal dan ingin memperbaiki kesalahannya.
Ibu ini berusaha keras mencari cara supaya cerita itu tidak lagi berkembang, dan akhirnya ibu itu menemui seorang pendeta dan meminta solusi dari sang pendeta.
Pendeta mendengarkan lalu berkata kepada si ibu, “ambil satu bantal kapuk di rumah, lalu datanglah kembali kesini, tapi selama dalam perjalanan, buang dikit demi sedikit kapuk dalam bantal itu, sampai kapuknya habis, nanti saya akan kasih tahu apa lagi yang harus ibu lakukan”.
Singkat cerita si ibu melakukannya, dan tiba di rumah pak pendeta dengan bantal yang sudah habis kapuknya. Pak pendeta lalu meminta si ibu untuk mengumpulkan kembali kapuk-kapuk yang sudah disebarnya di sepanjang jalan.
Ibu itu kaget, dan berkata, ‘tidak mungkin, semuanya sudah tersebar dan ditiup angin, sangat sulit untuk mengambil kembali’. Pak pendeta tersenyum dan berkata, ‘begitulah perkataan yang sudah engkau katakan tentang tetanggamu itu, sudah tidak mungkin lagi ditarik kembali’.
Ibu-ibu yang dikasihi Tuhan, kita harus menjaga lidah kita. Kita harus menjaga perkataan yang keluar dari mulut kita, jangan sampai kita menjadi penggosip yang nantinya malah akan merusak kehidupan orang lain.
Agar terhindar dari perkataan yang mengarah kepada gosip, maka kita harus belajar untuk menggunakan lidah kita dengan baik.
Efesus 4:29 menuliskan “janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia”.
Ibu-ibu, sudah sering kita dengar kalau perempuan itu identik dengan banyak bicara. Dan soal gosip, pasti perempuan yang disalahkan, padahal para laki-laki juga suka bergosip, hanya saja yang mereka bicarakan berbeda topiknya dengan kita. Iya khan?
Hanya karena perempuan lebih banyak berbicara dibandingkan dengan laki-laki, maka perempuan identik dengan yang namanya gosip. Dan yang namanya bergosip, pasti membicarakan kejelekan orang lain, dan itu merugikan orang yang digosipkan.
Tapi Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus meminta agar jemaat bisa menjaga setiap perkataan yang keluar dari mulut mereka.
Seorang pendeta baru saja memasang gigi palsu. Minggu pertama, dia hanya berkhotbah 10 menit. Minggu kedua, dia berkhotbah hanya 20 menit. Namun pada minggu ketiga, ia berkhotbah 1 jam 25 menit.
Ketika beberapa jemaat menanyakan hal ini kepadanya, ia menjawab, “Minggu pertama, gusi saya begitu sakit untuk berbicara. Minggu kedua, gigi palsu saya cukup menyakiti saya. Minggu ketiga, saya sengaja mengambil gigi palsu istri saya...dan saya tidak bisa berhenti bicara!”
Ibu-ibu, biarlah kita menggunakan ‘karunia’ berbicara kita dengan baik, sesuai dengan firman Tuhan. Yaitu mengeluarkan kata-kata yang membangun dan menghibur orang lain, dan bukannya menggosipkan dan membicarakan keburukan orang lain.
Tiga hal yang kita pelajari malam ini untuk mencegah kita supaya tidak menjadi penggosip:
1. Jangan pernah membicarakan orang lain, lebih baik bicarakan tentang diri sendiri.
2. Berusaha untuk mengekang setiap perkataan yang keluar dari mulut kita.
3. Mengeluarkan perkataan yang membangun dan menghibur orang lain.
Tema kita malam ini adalah ‘PENGGOSIP’.
Orang yang suka bergosip, disebut sebagai penggosip.
Gosip itu singkatan dari ‘makin digosok, makin sip’, maksudnya adalah suatu cerita yang beredar dari satu mulut ke mulut lain, dari satu telinga ke telinga lain, dan itu sudah disertai dengan bumbu-bumbu yang menarik, sehingga cerita semula bisa sangat berbeda maknanya, atau malah menjadi suatu cerita yang tidak jelas kebenarannya.
Namun anehnya, banyak orang yang suka dengan gosip, maksud saya suka bergosip dan suka menjadi penggosip, tapi tidak mau kalau digosipkan.
Benar kan? Mau tidak ibu-ibu digosipkan? Bukan KD (Kris Dayanti), tapi KG (Korban Gosip). Ada yang bersedia jadi sukarelawan menjadi korban gosip? Tentunya tidak ada seorangpun yang mau digosipkan kan? Tapi kalau bergosip, itu tidak bisa dihindari, benar ibu-ibu?
Ada banyak hal yang bisa digosipkan / ‘diceritakan’. Mulai dari masalah keluarga (hubungan suami-istri, perilaku anak, mertua, adik ipar dll), masalah keuangan (tetangga punya rumah baru, gaji naik, pekerjaan, dll), masalah penampilan (kosmetik, salon, operasi wajah, merk pakaian, dll). Pokoknya banyak deh.
Dari buku yang saya baca (High-Maintenance Relationship, oleh Les Parrott III, Ph.D.), dituliskan kalau rata-rata setiap orang mengucapkan kebohongan (dalam hal bergosip) sebanyak 13 kali setiap minggu, bahkan itupun tanpa disadari kalau sudah berbohong. Wah, kita musti hitung nih mulai hari ini sampai dengan Kamis depan, benar tidak yah penelitian tersebut.
Nah, apa kata firman Tuhan tentang bergosip ini?
Sekarang, mari kita membuka firman Tuhan dari Amsal 25:9, “belalah perkaramu terhadap sesamamu itu, tetapi jangan buka rahasia orang lain”.
Biasanya orang mau bergosip karena mau tahu urusan orang lain, atau ingin menjadi orang yang pertama tahu mengenai ‘informasi’ yang belum diketahui oleh orang lain. Gosip juga dianggap sebagai salah satu cara untuk mendapatkan ikatan persahabatan atau kunci penerimaan sosial. Yaitu kebutuhan untuk diterima. Bergosip juga disukai karena dengan bergosip membuat kehidupan mereka lebih normal.
Namun Amsal 25:9 mengatakan untuk kita jangan membuka rahasia orang lain. Kalau memang bermasalah dengan diri kita sendiri, kita berhak dan boleh membela masalah kita (debate your case with your neighbor), tapi jangan sampai membawa-bawa orang lain.
Ibu-ibu yang dikasihi Tuhan, lihat apa yang saya bawa ini? Coba sebutkan. Yah benar, kertas yang ada titik-titiknya. Ada yang berwarna hitam, merah, dan biru. Ketika kertas ini saya angkat dan saya tunjukkan kepada ibu-ibu, yang pertama kali dilihat yang titik-titiknya kah? Atau ibu-ibu melihat kertas putihnya? Padahal yang noktah ini lebih sedikit dibandingkan dengan kertas putihnya. Tapi itulah yang mencolok dan itulah yang kita lihat dulu.
Bukankah kita seperti itu juga? Kalau kertas ini digambarkan sebagai kehidupan orang lain, maka yang kita lihat adalah bercak yang ada di dalam kehidupan mereka, dan itu yang kita ekspos dan kita ceritakan. Tapi yang bersihnya tidak kita lihat atau kita malas lihat.
Ibu-ibu yang dikasihi Tuhan, jangan pernah membicarakan keburukan atau kehidupan orang lain, kalau mau, ceritakan saja kehidupan sendiri. Ini akan mencegah gosip dan mencegah kita menjadi penggosip.
Kenapa kita dilarang untuk membicarakan orang lain dalam hal gosip?
Mari kita lihat dalam Yakobus 1:26, “jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya”.
Yakobus 3:5, “demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar”.
Ibu-ibu, percuma kita beribadah, kata Yakobus, kalau ternyata kita tidak bisa menahan perkataan kita.
Jangan ikut-ikut dalam bergosip. Ada satu orang yang pernah mengatakan kepada saya, untuk mengatasi supaya tidak ikut bergosip adalah dengan langsung cut dengan mengatakan, “maaf, saya tidak mau mendengar hal itu yah.” Dan gosip itu pun tidak jadi masuk dalam telinganya.
Suatu hari, ada seorang ibu yang membicarakan tetangganya. Dan pembicaraan itu ternyata akhirnya menyebar sampai ke seluruh kompleks perumahan tersebut. Padahal belum dilihat kebenarannya. Kemudian, si ibu yang pertama kali menggosip itu, baru tahu kalau ternyata cerita yang dia sampaikan ke orang-orang di kompleksnya, adalah cerita yang salah. Ibu ini menyesal dan ingin memperbaiki kesalahannya.
Ibu ini berusaha keras mencari cara supaya cerita itu tidak lagi berkembang, dan akhirnya ibu itu menemui seorang pendeta dan meminta solusi dari sang pendeta.
Pendeta mendengarkan lalu berkata kepada si ibu, “ambil satu bantal kapuk di rumah, lalu datanglah kembali kesini, tapi selama dalam perjalanan, buang dikit demi sedikit kapuk dalam bantal itu, sampai kapuknya habis, nanti saya akan kasih tahu apa lagi yang harus ibu lakukan”.
Singkat cerita si ibu melakukannya, dan tiba di rumah pak pendeta dengan bantal yang sudah habis kapuknya. Pak pendeta lalu meminta si ibu untuk mengumpulkan kembali kapuk-kapuk yang sudah disebarnya di sepanjang jalan.
Ibu itu kaget, dan berkata, ‘tidak mungkin, semuanya sudah tersebar dan ditiup angin, sangat sulit untuk mengambil kembali’. Pak pendeta tersenyum dan berkata, ‘begitulah perkataan yang sudah engkau katakan tentang tetanggamu itu, sudah tidak mungkin lagi ditarik kembali’.
Ibu-ibu yang dikasihi Tuhan, kita harus menjaga lidah kita. Kita harus menjaga perkataan yang keluar dari mulut kita, jangan sampai kita menjadi penggosip yang nantinya malah akan merusak kehidupan orang lain.
Agar terhindar dari perkataan yang mengarah kepada gosip, maka kita harus belajar untuk menggunakan lidah kita dengan baik.
Efesus 4:29 menuliskan “janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia”.
Ibu-ibu, sudah sering kita dengar kalau perempuan itu identik dengan banyak bicara. Dan soal gosip, pasti perempuan yang disalahkan, padahal para laki-laki juga suka bergosip, hanya saja yang mereka bicarakan berbeda topiknya dengan kita. Iya khan?
Hanya karena perempuan lebih banyak berbicara dibandingkan dengan laki-laki, maka perempuan identik dengan yang namanya gosip. Dan yang namanya bergosip, pasti membicarakan kejelekan orang lain, dan itu merugikan orang yang digosipkan.
Tapi Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus meminta agar jemaat bisa menjaga setiap perkataan yang keluar dari mulut mereka.
Seorang pendeta baru saja memasang gigi palsu. Minggu pertama, dia hanya berkhotbah 10 menit. Minggu kedua, dia berkhotbah hanya 20 menit. Namun pada minggu ketiga, ia berkhotbah 1 jam 25 menit.
Ketika beberapa jemaat menanyakan hal ini kepadanya, ia menjawab, “Minggu pertama, gusi saya begitu sakit untuk berbicara. Minggu kedua, gigi palsu saya cukup menyakiti saya. Minggu ketiga, saya sengaja mengambil gigi palsu istri saya...dan saya tidak bisa berhenti bicara!”
Ibu-ibu, biarlah kita menggunakan ‘karunia’ berbicara kita dengan baik, sesuai dengan firman Tuhan. Yaitu mengeluarkan kata-kata yang membangun dan menghibur orang lain, dan bukannya menggosipkan dan membicarakan keburukan orang lain.
Tiga hal yang kita pelajari malam ini untuk mencegah kita supaya tidak menjadi penggosip:
1. Jangan pernah membicarakan orang lain, lebih baik bicarakan tentang diri sendiri.
2. Berusaha untuk mengekang setiap perkataan yang keluar dari mulut kita.
3. Mengeluarkan perkataan yang membangun dan menghibur orang lain.
Senin, 05 Desember 2011
berkat Tuhan...
BERKAT TUHAN ATAU SUSAH PAYAH
AMSAL 10:22
Berkat TUHANlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya. (ITB)
The blessing of the LORD makes one rich, and He adds no sorrow with it. (NKJV) – berkat TUHANlah yang membuat seseorang menjadi kaya, dan Dia tidak menambahkan kesedihan dengan kekayaan itu –
Saudara, saya membaca di surat kabar Kompas, Minggu, 17 Juli 2011, tentang seorang perempuan muda yang berhasil di Singapura. Perempuan ini adalah orang Indonesia, yang karena kerusuhan di Jakarta pada tahun 1998, akhirnya mengungsi ke Singapura dan mulai kuliah disana. Yang menarik adalah berita yang ditulis dalam koran tersebut, yang mengatakan kalau Merry Riana, adalah seorang miliarder muda di Singapura, dengan penghasilan + 1 juta dolar Singapura (sekitar 7 miliar rupiah), padahal waktu itu ia masih berusia 26 tahun. Disana ditulis, “dengan mimpi, semangat, dan kerja keras, ia menjadi miliarder di usia muda’.
Koran Kompas juga menuliskan kisah mengenai seorang TKI yang bernama Sarmini, yang menjadi sarjana di Malaysia. Di Kompas hari Senin, 18 Juli 2011, tertulis, “berkat tekad, semangat, rajin belajar di sela-sela kerja keras di rumah majikannya, dan ketekunannya, ia (Sarmini) pulang dari Malaysia dengan menggondol gelar sarjana muda. Kini ia ditawari bekerja di pemerintahan Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Ketika membaca kedua berita itu, spontan saya langsung berkata dalam hati, ‘wuih beruntung sekali mereka berdua’. Banyak yang susah payah sekolah ke luar negeri, ketika selesai kuliah pun tidak bisa menjadi miliarder, bahkan mendapatkan pekerjaan saja susah. Atau tentang TKI itu, bukannya banyak diberitakan hidup TKI yang susah dan dianiaya? Tapi ternyata dia malah bisa mendapatkan gelar sarjana muda di Malaysia. Benar-benar beruntung. Hoki.
Tapi saya kemudian berpikir lagi, di Kristen kan tidak ada hoki atau kebetulan. Ini pasti anugerah dan berkat Tuhan. Karena mereka bekerja keras dan tekun serta semangat dalam mencapai mimpi/cita-cita mereka, maka Tuhan memberkati usaha dan ketekunan mereka, sehingga mereka berhasil.
Tapi ada tidak, orang yang sudah bekerja keras dari pagi sampai malam, sampai ketemu pagi lagi, tapi tidak mendapatkan kesuksesan seperti dua perempuan tadi? Ada. Dan banyak. Banyak orang yang sudah kerja mati-matian, tapi untuk makan sehari 3x aja tidak bisa. Banyak orang yang sudah kerja keras, tetap aja tidak bisa membayar uang sekolah. Banyak orang yang sudah setengah mati kerja, tetap aja tidak bisa membeli rumah sendiri, dan masih harus ngontrak, atau tinggal di rumah mertua (kalau yang sudah menikah).
Apa itu berarti Tuhan tidak memberkati usaha orang-orang yang berjerih lelah? Apa itu berarti Tuhan pilih kasih? Sebenanya apa sih ukuran seseorang itu diberkati Tuhan atau tidak?
Mari kita membuka Amsal 10:22, kita akan membacanya secara bersama-sama.
Ayat ini mengatakan berkat TUHANlah yang menjadikan kaya. Berarti semua orang yang kaya, adalah orang yang diberkati oleh TUHAN. Berarti kekayaan yang dimiliki oleh seseorang merupakan berkat dari TUHAN dan bukan karena kerja keras atau usaha mereka?
Wah kalau saya bilang begini, mungkin ada diantara kita yang bilang, ‘enak aja neh Maria ngomong, mana mungkin kekayaan datang begitu saja, pasti harus tetap ada usaha dong, emangnya kalau saya makan-tidur aja, saya bisa kaya? Tidak, saya harus kerja keras untuk memiliki kekayaan saya ini’.
Saya setuju dengan pemikiran itu. Memang tidak ada kekayaan yang langsung turun dari langit. Tetap harus ada usaha dan kerja keras dari kita. Namun satu hal yang jangan sampai kita lupakan, sekuat apapun kita kerja keras, sebesar apapun kita banting tulang, tapi kalau Tuhan tidak memberkatinya, maka semua itu sia-sia.
Jadi apa yang harus dilakukan? Yah seperti slogan yang biasa kita dengar, ORA ET LABORA, berdoa sambil bekerja. Tidak melupakan Tuhan dalam pekerjaan kita, karena tetap ‘berkat TUHANlah yang menjadikan kaya’.
· Seorang dokter sedang memeriksa seorang pasien pria yang terbaring lemas di meja operasi. Setelah beberapa saat, sang dokter berkata kepada istri pria tersebut, ‘maaf bu, dengan berat hati saya ingin memberitahukan bahwa suami ibu sudah meninggal. Kami sudah berusaha, tolong ibu sabar dan tabah yah’. Suasana menjadi hening. Tiba-tiba, terdengar suara lemah dari atas meja operasi, ‘tidak, saya masih hidup’. Istrinya menepuk pelan tangan suaminya itu dan berkata, ‘huss, dokter kan lebih tahu daripada kamu’.
Saudara, istri itu lebih percaya diagnosis dokter yang mengatakan suaminya sudah mati, dan tidak mempercayai suaminya sendiri yang jelas-jelas masih hidup. Dengan menganggap kekayaan, adalah hasil usaha kita sendiri, dan mengabaikan pertolongan Tuhan, itu sama seperti istri yang menolak kenyataan bahwa suaminya masih hidup.
Saudara, kekayaan yang kita miliki adalah berkat dari Tuhan, dan Tuhan meminta tanggung jawab kita dalam mengelola dan memakai kekayaan tersebut.
Yang kedua, ‘susah payah tidak akan menambahinya’. Apa maksud bagian ini? Apakah ini berarti kita tidak usah bersusah payah, tokh itu tidak akan menambahkan kekayaan kita?
Kalau saya membandingkan dengan tafsiran lain, bagian ini menggambarkan mengenai TUHAN yang tidak menambahkan kesedihan dengan kekayaan itu (the blessing of the LORD makes one rich, and He adds no sorrow with it).
Berkat Tuhanlah yang membuat seseorang menjadi kaya, dan Dia tidak menambahkan kesedihan dengan kekayaan itu.
Apa maksudnya?
Saudara, tidak semua kekayaan itu membawa sukacita atau damai sejahtera. Ada banyak orang kaya yang malah hidupnya tidak bahagia. Malah banyak orang kaya dan terkenal yang mati bunuh diri, misalnya saja beberapa artis korea yang sedang naik daun.
Tapi kebanyakan orang ingin kaya, benar kan? “Ya iyalah, yang pasti lebih enak kaya dong dibandingkan miskin”. Jadi orang kaya kan bisa beli semua yang diingini, bisa dihargai di masyarakat, di gereja juga, bisa jalan-jalan ke luar negeri, dll. Saya dulu juga sempat berpikir begitu, tapi kemudian saya tahu bahwa yang menjadi sumber kebahagiaan dan sukacita bukanlah kekayaan.
Kekayaan adalah salah satu berkat Tuhan, tapi yang lebih penting adalah sukacita dalam ‘menghabiskan’ berkat Tuhan itu. Amsal 10:22 ini menuliskan bahwa yang namanya kekayaan yang berasal dari berkat Tuhan itu tidak akan menimbulkan kesedihan.
Berarti ada kekayaan yang menimbulkan kesedihan atau kesengsaraan? Iya, ada. Yaitu kekayaan yang dihasilkan dari jalan yang tidak benar. Misalnya saja kekayaan yang dicapai dengan cara memuja setan. Biasanya ada yang harus ditukar, entah sakit penyakit, atau kematian anak/saudara, entah hati yang tidak damai, dll. Itu adalah kekayaan yang didapat bukan karena berkat dari Tuhan.
Berkat TUHANlah yang membuat seseorang menjadi kaya, dan Dia tidak menambahkan kesedihan dengan kekayaan itu.
Kekayaan yang berasal dari Tuhan tentunya akan membawa sukacita dan damai sejahtera.
Lalu bagaimana dengan yang tidak kaya, apakah itu artinya tidak diberkati oleh Tuhan?
Saudara, berkat Tuhan tidak hanya berupa kekayaan saja. Tapi kesehatan, itu juga adalah berkat Tuhan. Bisa bernafas tanpa memakai tabung oksigen, itu adalah berkat Tuhan. Kehidupan keluarga yang damai, itu juga adalah berkat Tuhan. Kepintaran, relasi yang baik dengan sesama, itu juga adalah berkat Tuhan.
Jangan pernah mengukur berkat Tuhan hanya dari kekayaan saja, karena ada yang lebih besar daripada kekayaan, yaitu damai sejahtera di dalam Tuhan, kehidupan kerohanian yang bertumbuh dalam Tuhan, dan kekayaan yang terpenting adalah keselamatan di dalam Kristus Yesus.
celakalah kamui...
Amos 6:1-14
Selamat pagi Bapak/Ibu/Saudara yang dikasihi oleh Tuhan.
Hari ini kita akan merenungkan firman Tuhan dari Amos 6:1-14. Kita akan membaca secara bergantian. Program Indonesia akan membaca ayat 1, program Mandarin akan membaca ayat 2, demikian seterusnya sampai dengan ayat 14.
Saudara, ketika membaca bagian ini, saya teringat dengan film India. Biasanya dalam film-film India, ada tuan tanah yang namanya itu Tuan Takur. Digambarkan tuan Takur adalah orang yang sangat kaya, tapi tamak n cenderung menginjak orang yang lemah. Dia bisa melakukan apa saja untuk menambah kekayaannya, atau untuk mendapatkan apa yang dia ingini.
Dalam kitab Amos, digambarkan juga keadaan Israel yang penuh dengan ketidakadilan dan penindasan kepada kaum yang lemah. Itulah sebabnya Amos dipanggil, untuk menyampaikan nubuat tentang bangsa-bangsa, dan terutama untuk kaum Israel. Karena berita yang disampaikannya itulah maka Amos, seorang peternak domba dari Tekoa, yang tidak pernah sekolah nabi, diusir dari Israel dan disuruh pergi ke tanah Yehuda oleh imam Amazia.
Mengapa Amos diusir? Karena Amos menubuatkan sesuatu yang buruk tentang Israel. Apa sebenarnya yang dinubuatkan oleh Amos?
Mari kita melihat ayat 1.
Disana dituliskan “celaka atas orang-orang yang merasa aman.....merasa tenteram....orang-orang terkemuka.....dan orang-orang yang kepada mereka kaum Israel biasa datang.
Celaka buat orang seperti itu. Berarti kalau mereka tidak merasa aman, mereka tidak akan celaka? Atau kalau mereka tidak berada di Sion, atau di gunung Samaria, atau bukan dari bangsa yang utama, mereka juga tidak akan celaka?
Ternyata bukan itu. Bukan masalah tempatnya, atau merasa aman-tenteramnya. Tapi apa yang telah mereka lakukan itulah yang membuat celaka.
Ayat 3-6 menuliskan tentang ‘kejahatan’ yang dilakukan oleh orang Israel, tepatnya oleh pemimpin kaum Israel. Mereka memerintah dengan kekerasan, memuaskan diri sendiri dengan mengorbankan orang lain, dan tidak peduli kepada bangsanya sendiri. Yang dicari adalah kepuasan diri sendiri, kesenangan diri sendiri. AASYLBA, Asalkan Aku Senang Yang Lain Bodo Amat.
Inilah yang menjadikan mereka celaka, dan itulah sebabnya mereka harus dihukum. Mereka akan pergi sebagai orang buangan di kepala barisan (ay. 7).
Aduh, kok begitu saja dihukum seh? Saudara, kalau kita baca pasal sebelumnya, disana dengan jelas dikatakan bahwa Tuhan sudah melakukan berbagai cara untuk menyadarkan mereka. Melalui kelaparan, kekeringan, penyakit, bahkan kehancuran (lihat 4:6-13). Tapi ternyata mereka tidak mau berbalik kepada Tuhan. Mereka menutup telinga mereka dari suara Tuhan, mereka menutup mata mereka melihat kesulitan sebangsanya, dan mereka hanya membuka perut mereka untuk memuaskan nafsu mereka sendiri.
· Suatu hari ada seorang mama yang mendapati anaknya sedang mencuri kue yang sedang dibuatnya. Sebagai mama yang baik, ia bertanya kepada anaknya. “Sayang, kenapa kamu mencuri? Bukankah kamu tahu kalau Tuhan itu ada dimana-mana?”, kata sang mama. Anak itu hanya mengangguk. Mama pun bertanya lagi, “kamu tahu kalau Tuhan juga ada di dapur, mengawasi kamu ketika kamu mengambil kue itu?”. Kembali anaknya hanya mengangguk. Lalu mama pun bertanya, “kira-kira, apa yang dikatakan Tuhan ketika melihat kamu mencuri?”. Anak itu terdiam sebentar, memandang mamanya, dan dengan polos berkata, “Tuhan bilang, disini hanya ada kita berdua, ayo ambillah kue itu dua”.
Saudara, anak itu berusaha menyakinkan mamanya bahwa Tuhan mengijinkan perbuatannya. Bukankah itu yang dilakukan oleh bangsa Israel di jaman Amos? Mereka melakukan kejahatan tapi tetap memberikan persembahan kepada Tuhan dengan anggapan Tuhan suka akan persembahan mereka. Tetapi ternyata tidak (lihat 5:21-23).
Saudara, berapa banyak diantara kita yang hanya sibuk memuaskan diri sendiri, dan melakukan penindasan kepada orang yang lemah? Berapa banyak diantara kita yang menjadikan firman Tuhan sebagai tameng untuk mendapatkan apa yang kita ingini?
Tuhan sangat sayang kepada kita, dan ketika ada perbuatan kita yang tidak menyenangkan-Nya, maka Ia pasti akan memberitahu kita. Kalau kita tidak lagi peka akan suara Tuhan, saudara, berhati-hatilah, berhati-hatilah kalau kita tidak lagi mau ditegur oleh Tuhan.
Jangan sampai kita dibuang, karena kita berjalan menurut kehendak kita sendiri saja.
Bukan masalah tempat atau rasa aman, yang membuat pemimpin Israel akan mengalami hukuman, tapi apa yang mereka lakukan. Kejahatan merekalah yang membuat Tuhan murka dan akan membuang mereka.
Selanjutnya mari kita melihat ayat 12.
Disana dituliskan, “berlarilah kuda-kuda diatas bukit batu, atau dibajak orangkah laut dengan lembu?”.
Ini adalah suatu hal yang sangat tidak mungkin dilakukan oleh orang yang waras. Bukan masalah efektif atau efisiennya. Tapi ini suatu hal yang tidak benar.
Orang yang punya kuda, pasti tidak akan membiarkan kudanya berlarian di bukit batu, sekalipun kuda pakai sepatu, tapi tetap bebatuan akan melukai kakinya. Sama dengan lembu, tidak mungkin laut itu dibajak dengan lembu. Yang ada malah tenggelam, moooooohhhh.
Berarti kalau ada orang yang membiarkan kuda atau lembunya melakukan hal seperti itu, mungkin orang itu ‘oon, atau ‘99’, atau malah tidak sayang kepada kuda atau lembunya. Tapi kemungkinan terakhir itu sangat kecil, yang paling besar adalah orang yang melakukannya itu ‘oon.
Namun saudara, ayat selanjutnya mengatakan kalau “sungguh, kamu telah mengubah keadilan menjadi racun dan hasil kebenaran menjadi ipuh!”
Mereka bukan saja melakukan kekerasan, penindasan, tapi mereka mengubah keadilan dan kebenaran menjadi kepahitan. Inilah kejahatan Israel yang selanjutnya.
Tidak puas dengan menindas orang lemah. Tidak puas dengan memakan habis milik orang lemah. Mereka juga mengubah, atau memutarbalikkan kebenaran dan keadilan. Untuk apa mereka lakukan itu? Tetap untuk pemuasan diri mereka sendiri. Untuk kesenangan diri sendiri.
Mereka bukannya tidak tahu kebenaran. Tapi mereka tidak mau melakukan kebenaran. Atau mereka malah sok tahu, menganggap kebenaran adalah apa yang mereka lakukan dan pikirkan, bukan apa yang Tuhan pikirkan.
Ayat 14 dikatakan, “Tuhan akan membangkitkan suatu bangsa untuk melawan bangsa Israel, dan mereka akan menindas kamu”. Ada penghukuman Tuhan yang diberikan.
· Ada seorang guru yang pada hari itu sedang berulangtahun. Biasanya, di tahun-tahun yang lalu, anak-anak muridnya akan membawakan kado sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan oleh orangtua muridnya itu. Maka ketika sang guru menerima kado dari Susi, ia bisa menebak kalau kadonya adalah sebuah buku, karena ayah Susi memiliki toko buku. “aha, miss tahu kamu memberikan miss hadiah buku kan?”, kata guru itu. “iya, benar, kok miss bisa tahu seh?”, kata Susi. “Miss kan selalu tahu”, katanya. Lalu kepada Tomi, guru itu berkata, “nah, kamu pasti memberikan miss baju yah?” (ayah Tomi punya toko baju). “betul miss, kok miss tahu seh?” “Miss kan selalu tahu”. Demikian seterusnya, sampai giliran Bobby. Karena orangtua Bobby ini punya toko minuman, apalagi kertas pembungkusnya basah, maka sang guru berkata kepada Bobby, “aha, pasti kamu membawakan miss sirup yah?” “Bukan”, kata Bobby. “Ehm, kalau begitu, lemon?”. Bobby menggelengkan kepalanya. Tangan miss basah, lalu dia menjilat salah satu jarinya, tapi tetap tidak bisa menebak. “Markisa asli?”. Bobby menjawab, “bukan, saya membawakan miss seekor anak anjing”.
Saudara, kebenaran bukanlah apa yang kita rasakan, atau yang kita inginkan atau apa yang kita pikirkan. Kebenaran adalah kebenaran, dan tolok ukur kebenaran kita adalah firman Tuhan. Alkitab inilah yang menjadi ukuran sesuatu yang kita lakukan itu benar ataukah tidak.
Perbuatan kita itu benar atau tidak, tidak diukur dari kesenangan yang kita dapatkan. Keuntungan yang kita terima, atau pujian yang kita harapkan.
Orang Israel, yang melakukan kekerasan, penindasan, dan mengubah kebenaran dan keadilan menajdi racun, pada akhirnya akan mendapatkan hukuman dari Allah.
Yang menindas, pada akhirnya akan ditindas juga. Yang memerintah dengan kekerasan, akhirnya akan dihancurkan dan diperintah dengan kekerasan juga. Hukum tabur-tuai berlaku disini.
Saudara, menindas dan ditindas, pasti akan kita temui dalam kehidupan kita. Homo homini lupus, mau tidak mau terjadi juga. Lalu bagaimana respon kita menghadapi hal itu?
Bukan masalah tempat atau situasi yang kita hadapi, tapi bagaimana kita bisa meresponi apa yang terjadi dan apa yang kita alami, sesuai dengan terang firman Tuhan.
Oleh karena itu, pekalah dengan suara Tuhan, lembutkan hati untuk mau ditegur oleh Tuhan, dan peliharalah hubungan pribadi dengan Tuhan.
Mari kita berdoa. Amin.
pesimistis
PESIMISTIS
1 Raja 17:7-24
Selamat malam ibu-ibu yang terkasih.
Malam ini kita akan sama-sama merenungkan firman Tuhan dengan tema : PESIMISTIS.
Sebelumnya, mari kita berdoa.
Amin.
Ibu-ibu, saya membawa gelas yang berisi air di tangan saya ini. Nah, saya mau bertanya, menurut ibu-ibu, isi gelas ini bagaimana?
Kalau jawabnya separuh penuh, itu tipe orang optimis. Tapi kalo bilang separuh kosong, nah itu baru tipe orang pesimis.
Orang-orang pesimis selalu melihat yang kosong daripada yang isi, maksudnya selalu lihat resiko dulu baru lihat kesempatan atau keuntungannya.
Pesimistis adalah suatu sikap atau keadaan pikiran dimana seseorang itu selalu berpandangan/berpikiran negatif, mudah putus asa, hidupnya selalu khawatir kalah/rugi/celaka/dll.
(Pesimisme berasal dari bahasa Latin : Pessimus = terburuk)
Malam ini kita akan mencoba melihat satu contoh perempuan yang berhasil melepaskan diri dari sikap pesimisnya. Seorang janda yang pesimis tapi kemudian berhasil mengalahkan pesimisme-nya.
Mari kita membuka 1 Raja 17:7-24.
Kita baca secara bergantian.
Ayat 1-6 menuliskan bagaimana Elia berada di tepi Sungai Kerit dan dipelihara oleh Allah melalui burung gagak yang membawa roti dan daging dua kali sehari.
Namun kemudian setelah sungai itu menjadi kering, Elia pun diperintahkan Tuhan untuk pergi ke Sarfat dan disana sudah disiapkan Tuhan seorang janda untuk menyediakan makanannya (ay. 7-8).
Sekarang kita melihat dua sikap pesimistis dari si janda itu:
1. Ayat 12 — pesimis dalam memenuhi kebutuhan hidup
Si janda mengatakan kalau ’aku sudah tidak punya roti sama sekali, yang ada cuma segenggam tepung dan sedikit minyak. Aku memang mau mengolahnya untuk dimakan, tapi setelah makan, aku dan anakku akan mati”.
Inilah sikap pesimis itu. Seperti air yang ada dalam gelas tadi. Yang dilihat adalah yang kosong, tapi bukan yang masih ada isinya.
Selalu khawatir tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup. Kalau sehari ga bisa dapat cuan 1 jt, dianggap belum dapat untung,, ‘bisa ga yah bayar pinjeman bank’, ‘bisa ga yah kirim uang kuliah anak di bandung’.
Ada banyak kekhawatiran.
* ada seorang ibu, yang punya lima anak, tiba-tiba suaminya sakit, stroke, ga bisa buat apa-apa, padahal anak-anaknya masih kecil,, yang besar saja baru kelas 3 SMP. Tapi saya salut dengan ibu ini, dia mau bekerja keras. Dia kerja ke Jakarta dengan membawa anak bungsunya yang masih bayi, dan bekerja disana. Melihat kesulitan mamanya, anaknya yang paling besar pun berhenti dari sekolahnya dan mulai melamar pekerjaan. Setiap hari Minggu, si Ibu berangkat dari Jakarta jam 4 pagi, supaya bisa ke gereja jam 7 pagi. Pulang dari gereja jam 10pagi, ibu ini kembali ke Jakarta.
Begitu besar perjuangan dari Ibu ini, sehingga sekarang anak-anaknya menjadi anak-anak yang berhasil. Tiga orang kuliah, bahkan yang satu sudah mengambil S2.
Ibu-ibu, sebagai seorang yang sudah ditetapkan Tuhan sebagai penolong laki-laki, kita harus hidup dengan optimis, ada semangat, ada harapan.
Kelihatannya aja laki-laki itu kuat, tapi sebenarnya tanpa ada wanita yang menopang, laki-laki tidak akan kuat. Buktinya? Perempuan tahan untuk tidak menikah lagi setelah suaminya tidak ada, tapi jarang sekali ada laki-laki yang tahan. Itu sudah saya lihat di beberapa tempat.
· Ibu janda ini pesimis dalam melihat kebutuhan hidup yang mungkin tidak dapat dia penuhi, tapi kemudian ketika Elia datang dan mengatakan dalam ayat 13, ‘janganlah takut...., ‘, janda ini berusaha taat. Dan akhirnya, ayat 16 mengatakan, ’tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang’.
2. Ayat 18 — pesimis dalam hal takut kehilangan
My son = anak laki-lakiku.
Anaknya cuma ada satu, n ternyata malah sakit parah dan hampir mati. Dan ibu janda ini mengatakan, ‘oh engkau nabi Allah, apa maksud mu datang kemari, apa mau menyebabkan anakku mati’.
Coba bayangkan, padahal dalam bagian sebelumnya, janda ini sudah siap untuk mati, dia dan anaknya itu. Tapi ternyata setelah kebutuhan hidupnya dipenuhi oleh Allah melalui Elia, janda ini takut kehilangan anaknya.
Dia pesimis, takut kehilangan.
Kalau kita tidak pernah memiliki sesuatu, kita tidak akan pernah takut kehilangan, karena tidak ada sesuatu yang kita miliki. Tapi berbeda kalau kita sudah memiliki sesuatu, kita pasti tidak mau kehilangan. Benar khan?
· saya teringat dengan retreat remaja kemarin, ada satu sesi dimana Pdt. Handoko melakukan yang namanya calling, siapa yang mau mengakui dosanya, dsb. n semua anak-anak maju dan berlutut. Semua. Setelah semua selesai, saya menantang mereka untuk mau dan berani ga meminta maaf kepada orangtua atas kesalahan selama ini, selalu membuat sedih orangtua. Banyak diantara mereka ga mau, dengan alasan, ‘malu ci’, atau ‘ah, pasti nanti si mami tanya kamu kenapa’, dan banyak alasan lainnya. Mereka ga siap mendapat respon yang ga bagus dari papi-mami mereka sendiri. Mereka ga siap kehilangan. Bukannya selama ini ga usah minta maaf, tetap aja keadaan baik-baik aja?
· Si janda ini hanya punya satu anak laki-laki, dia siap mati bersama, tapi ga siap kalau hanya anaknya saja yang mati. Ayat 19 Elia mengatakan kepadanya, ‘berikanlah anakmu itu kepadaku’, kemudian Elia berdoa bla..bla..bla.. Sampai ayat ke 23, anak itu sembuh dan hidup.
Baru kemudian janda ini pun punya respon yang positif, ayat 24: ‘sekarang aku tahu, bahwa engkau abdi Allah dan firman TUHAN yang kau ucapkan itu adalah benar’.
Ibu-ibu, saat ini mungkin ada banyak masalah yang dihadapi dalam keluarga, menghadapi suami, anak, belum lagi melihat kebutuhan rumah tangga, hal itu membuat ibu-ibu bersikap pesimis, khawatir, pikiran negatif. Itu wajar, tapi jangan sampai berlebihan.
Belajar dari janda ini, bawa semua kekhawatiran dan sikap pesimis itu kepada Tuhan, percaya dan beriman, maka ada pengharapan yang Dia sediakan. Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)